VOLUME MOLAR PARSIAL

 

NAMA : Vinanta Yulianti

NIM : F1C121014

Kelompok :V

Praktikum Kimia Fisik Lanjutan

Volume Molar Parsial

Asisten Laboratorium :

1.     Putri Ramadhanti,S.Si

2.     Andreas Sihotang ( F1C119051 )

Larutan dapat dibuat dengan mencampurkan sejumlah zat terlarut dengan suatu pelarut.  Idealnya, apabila sejumlah volume zat terlarut ditambahkan sejumlah volume pelarut maka volume larutan merupakan sejumlah dari volume zat terlarut dan pelarutnya. Volume molar parsial merupakan kontribusi volume setiap komponen terhadap volume total suatu larutan. Apabila hal tersebut terjadi pada sistem larutan yang terdiri dari pelarut dan zat terlarut maka akan diperoleh volume total larutan yang tidak ditentukan dari jumlah volume pelarut dan volume zat terlarut. Volume total larutan sangat tergantung pada komposisi pelarut dan zat terlarut. Ketika terjadi proses pelarutan maka zat terlarut akan tersolvasi dalam pelarut sehingga molekul zat terlarut akan dikelilingi oleh molekul-molekul pelarut. Banyaknya molekul pelarut yang mengelilingi dan terlarut tergantung pada jenis zat terlarut dan pelarut yang menyebabkan terlarut membutuhkan volume tertentu ( Rohyami,2018).

Volume molar parsial suatu zat dalam larutan adalah perubahan volume yang terjadi apabila 1 mol komponen larutan adalah perubahan volume yang terjadi apabila 1 mol komponen x ditambahkan pada larutan tersebut dan tidak mengubah komposisi x ditambahkan pada larutan dan tidak mengalami perubahan komposisi sistem. Dalam menentukan volume molar parsial, diperlukan perhitungan massa jenis zat dan pelarut dengan menggunakan piknometer.   Salah satu metode yang dapat digunakan adalah dengan metode kemiringan kurva. Penentuan volume molar parsial berhubungsn dengan variable ekstensif dan variable intensif. Variable ekstensif adalah variable yang bergantung pada volume, suhu dan tekanan. Sedangkan variable intensif adalah variable yang tidak bergantung pada volume , suhu dan tekanan. Penentuan volume molar parsial sangat bergantung pada konsentrasi dimana semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin tinggi berat larutan tersebut yang menyebabkan massa pinkometer semakin besar (Fatimah,2015).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perubahan volume molar parsial adalah adanya perbedaan antara gaya intermolekul pada larutan dan komponen murni penyusun larutan tersebut dan adanya perbedaan antara bentuk dan ukuran molekul suatu molar parsial. Ada tiga sifat termodinamik molal parsial utama yaitu volume molal parsial dari komponen-komponen dalam larutan, entalpi molal parsial dan energi bebas molal parsial. Volume molar parsial dari komponen suatu biner dapat dihitung dari penentuan kerapatan atau massa jenis larutan. Volume molar nyata dapat terjadi Ketika semakin besar nilai psi maka semakin kecil nilai m nya. Dan hal ini menandakan bahwa volume molar nyata berbanding terbalik dengan molalitas. Volume molar parsial zat terlarut dan pelarut berbanding terbalik dengan molalitas dimana semakin besar volume molar paesialnya, maka semakin besar konsentrasi dan semakin kecil molalitas nya (Stehle dan Breaver,2019).

DAFTAR PUSTAKA

Fatimah,I. 2015. KIMIA FISIK. Yogyakarta : Deepublish.

Rohyami,Y. 2018. KIMIA FISIKA EDISI 1 CETAKAN 1. Yogyakarta : Deepublish

Stehle,S. dan A.S.Breaver. 2019. “Hydrogen Bond Nerworks in Binary Mixtures Of Water and Organic Solvents”. The Journal of Physical Chemistry. Vol. 123(1) : 4425-4433.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

POSTEST PRAKTIKUM KIMIA FISIK LANJUT>>DIAGRAM BINER

Konsentrasi Kritis Misel (KKM) dan Entalpi dari Gelatin pada Berbagai Suhu