POSTEST PRAKTIKUM KIMIA FISIK LANJUT>>DIAGRAM BINER
Nama : Vinanta Yulianti
NIM : F1C121014
Kelas : R002
PRAKTIKUM KIMIA FISIK LANJUT
•POSTEST•
•DIAGRAM BINER•
Asisten Laboratorium :
Putri Ramadhanti,S.Si
Andreas Sihotang (F1C119051)
Kelarutan adalah kemampuan suatu
zat kimia tertentu zat terlarut (Solute) untuk larut dalam suatu pelarut (solven).
Larutan hasil disebut larutan jenuh .Zat-zat tertentu dapat larut dengan
perbandingan apapun terhadap suatu pelarut. Dalam percobaan ini dua larutan
yang digunakan adalah fenol dan air. Pada percobaan ini mengamati sistem biner
cair cair yaitu sistem biner fenol air yang mana berdasarkan pada prinsip sifat
larutan timbal balik pada suhu dan tekanan yang dikondisikan. Dinamakan sistem
bine senyawa air-fenol karena disebabkan oleh banyaknya jumlah komponen
campurannya yaitu fenol dan air. Dalam hal ini yang menjadi zat terlarut (Solute
) adalah fenol sedangkan pelarutnya ( Solvent ) adalah air. Fenol atau asam
karbolat atau benzenol adalah zat kristal tak berwarna yang memiliki bau yang
khas. Fenol memiliki kelarutan terbatas dalam air. Fenol cenderung memiliki
sifat asam yang artinya dapat melepaskan ion H+ dari gugus
hidroksilnya. Adapun struktur fenol adalah sebagai berikut :
Sumber : Fessenden dan Fessenden, 1982.
Sedangkan air adalah substansi kimia dengan
rumus kimia H2O, tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau. Penambahan
zat ke dalam sistem cairan biner akan menghasilkan sistem Binner. Apabila suatu
zat yang ditambahkan hanya larut di dalam salah satu komponen atau jika
kelarutan zat tersebut di dalam kedua cairan berbeda nyata maka kelarutan
kesetimbangan dari pasangan cairan tersebut menurun. Apabila campuran Binner
awal mempunyai suhu larutan kritis atas, maka suhunya akan naik dan jika
mempunyai suhu konsulat bawah maka suhu tersebut akan menjadi turun oleh
penambahan komponen ketiga tersebut.( Sopyan et al.,2018)
Parameter interaksi binner
keseimbangan uap cair di campuran alkohol primer (methanol, etanol, 1-propanon
atau 1-butanol) dengan alkohol rantai C5 yang telah ditentukan. Parameter
interaksi ditentukan sebagai fungsi suhu dengan mengkorelasikan data
kesetimbangan uap cair dengan menggunakan beberapa model. Ditentukan dan
dideskripsikan sebagai fungsi suhu untuk meningkatkan kemampuan parameter
tersebut dalam kisaran suhu yang panjang. Temperature kritis adalah batas atas
temperatur dimana terjadi pemisahan fasa. Beberapa sistem memiliki temperatur
kritis atas dan temperatur kritis bawah. diagram fasa yang paling sederhana adalah
diagram tekanan atau temperatur dari zat tunggal seperti air ( Mustain et al.,
2016).
Ketika sejumlah etanol bersama
dengan air dicampur bersama. Jika temperatur campuran dinaikkan akan terjadi
pembentukan campuran larutan sempurna. Ini artinya bahwa temperatur campuran
menentukan ada atau tidaknya interaksi molekuler dari setiap komponen. Diagram biner
adalah diagram yang menggambarkan dua jenis massa dan menunjukkan sifat
solubilitas timbal balik pada suhu tertentu dan tekanan yang sama. Diagram fasa
cair-cair termasuk diagram biner karena ada dua fase dalam campuran fasa
didefinisikan sebagai bagian homogen dan dari sistem yang mempunyai bentuk
fisik dan karakter kimia yang sama. Diagram fase biner adalah peta yang menggambarkan
hubungan antara suhu dan komposisi dan kuantitas dari fase pada keadaan
setimbang yang mana hal itu mempengaruhi mikrostruktur dari logam ( Fatimah
,2017 ).
Menurut hukum fase, sistem dibagi
berdasarkan jumlah komponen yang ada .kesukaran satu komponen terdapat pada
jumlah fase padat dalam sistem. Beberapa sistem memiliki temperatur atas dan
bawah dan dalam hal ini pada temperatur rendah kedua komponen lebih dapat
bercampur karena komponen-komponen ini membentuk kompleks yang lemah pada
temperatur lebih tinggi kompleks itu terurai dan komponen kurang bercampur.
Prinsip dasar dari diagram biner itu sendiri adalah kelarutan suatu senyawa
dalam senyawa yang terjadi pada saat telah mencapai kesetimbangan dimana
kesetimbangan dipengaruhi oleh suhu tekanan dan lain-lain ( Yang et al., 2022)
Jumlah komponen dalam suatu
sistem dapat didefinisikan sebagai jumlah minimum dari variabel bebas pilihan
yang dibutuhkan untuk menggambarkan komposisi tiap hasil dari suatu sistem.
Sistem biner fenol air merupakan sistem yang memperlihatkan sifat solubilitas
timbal balik antara fenol dengan air pada suhu tertentu dan tekanan tetap
zat-zat tertentu dapat larut dengan perbandingan apapun terhadap suatu larutan Pemisahan
dari campuran menjadi komponen-komponennya adalah salah satu proses terpenting
di industri kimia. Pada percobaan ini fenol dan air kelarutannya akan berubah
apabila dalam campuran tersebut ditambahkan salah satu komponen penyusunnya
yaitu fenol dan air. Disebut sebagai diagram biner karena jumlah komponen
campuran yang terdiri dari dua zat yaitu fenol dan air. Pada percobaan diagram
biner ini dilakukan suatu pencampuran dengan komposisi tertentu di mana campuran-campuran
ini mengalami pemanasan dan pendinginan pada suhu kelarutannya masing-masing
adapun hasil pada percobaan ini adalah sebagai berikut. ( Atashrouz et al.,2013).
Pada percobaan ini dilakukannya
pengamatan selama 15 kali penambahan air dalam mencari letak suhu kritis
campuran kedua larutan titik penambahan air sangat mempengaruhi hasilnya pada
percobaan titik suhu larutan dan warna larutan yang berubah menjadi bening saat
dipanaskan dan ketika dilakukannya pendinginan sampai larutan berubah menjadi
keruh kembali. Kelarutan akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya
temperatur . Penambahan air menyebabkan terjadinya kenaikan suhu karena semakin
luas permukaan zat yang dipanaskan maka semakin banyak kalor yang diserap
sehingga suhu larutan timbal balik fenol air meningkat. Terjadinya perubahan warna yang menjadi keruh
terjadi akibat suhu rendah dan larutan sehingga terbentuk warna keruh akibat
kurangnya kelarutan. Dan begitupun sebaliknya ,di mana pada saat pemanasan
warna larutan yang semula keruh menjadi bening. Hal ini dikarenakan pemanasan
dapat memutus ikatan molekul dan dapat menyebabkan kelarutan dan fenol air
tinggi. Dalam percobaan ini diperoleh
larutan yang tidak saling mencampuri yang mana membentuk dua lapisan atas air
dan lapisan bawah fenol. Hal ini disebabkan karena air memiliki massa jenis
yang lebih rendah daripada fenol. Pada percobaan ini komponen air selalu
ditambahkan dengan jumlah fenolnya tetap sehingga perubahan larutan dari jernih
menjadi keruh atau sebaliknya terjadi pada suhu yang berubah-ubah. Perubahan
suhu bergantung pada komposisi atau fraksi mol kedua zat. Larutan fenol dan air
akan berubah apabila ke dalam campuran ditambahkan dengan salah satu komponen
penyusunnya.
Dari beberapa perbandingan
sebanyak 15 kali maka dapat ditentukan titik kritis atau titik konsulat dari
sistem biner air fenol. Adapun hasilnya dari pemanasan ini yaitu diperoleh
larutan yang jernih dimana menyatakan adanya perubahan dari sistem dua fasa
menjadi sistem satu fasa. Berubah menjadi jernih ini menandakan bahwa campuran
fenol air telah mencapai suhu kritisnya sehingga untuk mengetahui suhu
digunakannya alat termometer. Kemudian didinginkan menyebabkan keruh dan
larutan keruh ini menandakan terjadinya perubahan dari sistem satu fasa menjadi
dua fasa. Pengadukan dan pendinginan berfungsi untuk mempercepat terbentuknya
sistem dua fase pada campuran adanya perubahan dari sistem satu fasa menjadi
sistem dua fase yang disebabkan oleh terbentuknya larutan jenuh pada fenol dan
air.
Adapun Diagram atau grafik Kurva
dari Diagram Biner Fenol-Air adalah sebagai berikut :
DAFTAR PUSTAKA
Atashroaz,S.,H.Mirshekar,
dan H.Bagheri. 2013. “Correlation Of Water Vapor-Liquid Equilibria For Commanly
Used Binary Systems In Supercritical Fluid Extruction Processes”. International
Journal Of Sciene and Enginering. Vol. 5(2) : 1-8.
Fatimah,I.
2017. KIMIA FISIKA EDISI 1. Yogyakarta : Deepublish.
Fessenden, R.J. and Fessenden, J.S., 1982. Kimia Organik, diterjemahkan oleh Pudjaatmakan, A. H., Edisi Ketiga, Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Mustain,A.,A.
Takawanto, dan D. Hartanto. 2016. “Parameter Interaksi Binner Kesetimbangan Uap-Cair
Campuran Alkohol Untuk Optimasi Proses Pemurnian Bioetanol”. Jurnal Bahan Alam
Terbarukan. Vol. 5(2) : 37-44.
Sopyan,I.,N.Wathani.,
T.Rusdiana, dan D.Gozali.2018. KARAKTERISASI SEDIAAN PADAT FARMASI. Yogyakarta
: Deepublish.
Yang,L.F.,
X.D.Si.,H.Q.Zhang., F.Y.Gao., Y.P.Zeng., Y.L.Liu., Y.R.Wang, dan Y.Du.2022. “
Thermodynamic Assesment Of The Ca-Mg Binary System”. Journal Of Mining and
Metollurgy, Sechan B : Metallurgy. Vol. 58(1):109-115.


Komentar
Posting Komentar